Friday, March 25, 2005

Perjalan 2

Jeep yang aku tumpang melaju kencang. Mengguncangkan tubuhku yang masih melakukan aklimatisasi. Roda-rodanya menggilas batu-batu dan salju yang masih saja turun. Meski sudah tidak sedingin ketika aku datang kemari dua bulan lalu, tapi tetap saja kehangatan Indonesia masih melekat erat ditubuhku.
"Hey Pals! What are you thinking, buddy! Enjoy the trip! Are you sick?"
Aku menoleh kearah suara itu. Namanya Owen. Orang Inggris. Teman yang baru aku kenal, beberapa detik ketika aku turun dari pesawat. Ketika itu, bawaan ku yang segunung menggugah dia untuk bertanya kemana aku pergi. Obrolan kami berjalan akrab, ketika aku menyebutkan suatu tempat. Dan dengan mata birunya yang berbinar dia berseru keras, " thanks God! I found you!" Kemudian dia memeluk ku sambil memegang kedua balah pipiku, seoalh tak percaya. Aku yang merasa aneh terhadap perlakuannya, hanya bisa bengong tak berkedip dan buru-buru mengingatkan kalau kita sedang terburu-buru mengejar bus. Ah...Owen! sahabatku satu-satunya disini.
"No. I'm good. I just think!" jawabku sekenanya.
"Hey...what are you thinking? A girl? You must have one in Indonesia. I went there twice, and saw many beautiful girls." katanya menyelidik.
"Yes. The woman that I love so much! My Mom." jawabku pelan
Dan Owen tak berkata apa-apa lagi, kecuali menepukkan tangannya beberapa kali. Dia tersenyum. Dimatanya seolah berkata, sabarlah kawan, perjalanan ini pasti berakhir.
**********************************************************************************
Malam baru saja datang. Udara dingin menyergap dari balik pintu yang dibuka oleh Owen. Nampaknya dia yang paling bersemangat tentang perjalanan ini. Segelas susu panas masih mengepulkan uap tipis keudara. Aku kembali teringat ibu. Pada saat-saat terakhir aku pergi meninggalkan Indonesia. Segelas teh panas di hidangkan ibu di meja belajarku.
" Al," suaranya memecah keheningan. Aku yang masih membereskan beberapa perlengkapan menoleh, tanpa menjawab. " Benar, kamu akan tinggalkan Ibu sendiri? Benar kamu akan tinggalkan Indonesia? Apa kamu sudah pikirkan masak-masak, nak?
Aku menoleh. Menatap ibu yang selama duapuluh enam tahun membesarkan ku dengan kasih sayangnya. Ibu melangkah gontai dan duduk di sebelahku, membantu memungut dua buku yang akan kubawa, dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya tanpa bisa melihat wajahnya yang sudah mulai senja.
"Tapi bukan karena pertentangan dengan ayahmu, bukan? " lanjutnya.
Aku masih bisu.
" Al. Jika karena ayah kamu pergi, berarti kamu kalah, nak! Kamu pengecut. Rasanya sia-sia selama ini ibu membelamu..."
"Bukan, bu!." kataku memotong ucapan ibu. " Aku pergi karena aku ingin. Ibu tahu, selama ini ayah hanya ingin aku jadi dokter, sekarang sudah! Kemarin aku di wisuda. Jadi dokter. Kini saatnya aku memilih pada apa yang aku anggap benar. Aku sudah menuruti keinginan Ayah. Aku tinggal kan hobyku menjadi seorang pendaki, dan sekarang semua keinginan ayah sudah aku penuhi. Lalu apa Al salah jika Al pergi, bu?"
" Nggak, Al. Nggak salah. Tapi, sepertinya egomu masih seperti dulu. Kamu persis ayahmu. Nggak bisa dicegah. Sekarang apa daya ibu. Ibu larangpun, pasti kamu akan pergi. Kamu sudah besar Al, kamu sudah bisa menentukan jalan hidup mu sendiri. Ibu nggak akan mencegah. Tapi pikirkanlah. Segala sesuatu yang kamu ambil akan kamu pertanggungjawabkan kelak!"
Dan, seolah kata-kata itu yang selalu jadi azimatku selama ini. Seoalah ibu selalu menemaniku di setiap perjalanku. Hingga kini aku bisa berada di sini. Di Katmandu. Pintu gerbang menuju puncak dunia. Yah, aku tercatat dan terpilih sebagai satu dari 7 orang pendaki yang akan melakukan pendakian Everest dengan didanai oleh sebuh perusahaan rokok di Amerika. Entah bagaimana mereka meilihku, juga masih aku ragukan. Tapi itulah hidup dan kenyataan.
Matahari bersinar cerah hari ini. Udara menjadi sedikit lebih hangat. Tapi tetap saja, rasanya badan ini menggigil setiap kali bertemu dengan air mandi. Untunglah pemilik rumah yang aku tinggali, mau dengan sukarela memasakkan air buat ku mandi! Keramahtamahan suku yang sudah pernah aku baca dari beberapa buku, ternyata memang bukan isapan jempol. Itulah mereka.
Jadwalnya baru dua hari lagi, rombongan inti akan sampai disini. Sebelum bulan depan kami akan mendaki ke puncak.
Duarr!
Aku terpekik. Menutup telingaku dengan refleks. Langit yang bebrepa menit lalu cerah, perlahan-lahan mulai gelap. Angin berhembus sedang, tapi kecepatan awan tidak seperti biasanya. Kilat menyambar bebrapa kali diurada. Dikejauhan, puncak everest seperti diterjang badai hebat. Sapuan angin menghadirkan pemandangan menakjubkan, ketika butir-butir putih terhempas keudara seperti sebuah permadani terbang. Owen berteriak dari dalam rumah. Ada pendaki yang terjebak di atas. Ya Tuhan. Aku berhenti berfikir dan lari secepatnya kerah rumah. Owen masih mendengarkan radio, dan beberapa kali berusaha menghubungi base camp di pos satu. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kami mendapat jawaban. Dari berita yang kami terima, ada sekitar empat orang tersambar petir dan pingsan di sana. Di luar dugaan, Owen menanyakan apakah kami boleh keatas untuk menolong.
"We are doctors! We can help. Please stay there and keep warm!" teriaknya didepan radio.
Tanpa banyak bicara kami bergegas meminta ijin lewat radio untuk segera naik. Aklimatisasiku belum lagi usai. Tubuhku masih sering terkena dingin yang hebat. Tapi demi nyawa empat orang lebih kami berusaha sekuat tenaga.
Dari perbincangan dengan Owen, aku tahu bahwa yang naik kesana adalah amatir yang sedang mengadakan pendakian gembira. Salah satunya adalah anak seorang pejabat pemerintah di Belanda. Ah...anak orang kaya yang mencari sensasi dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Demikianlah gunung. Tak bisa diperdiksi. Udara dingin siang itu kami tembus dengan dibantu beberapa sherpa. Perbekalan dan alat-alat kedokteran praktis semua telah masuk dalam tasku. Hebatnya, para sherpa itu, begitu mendangar terjadi tragedi di gunung, tanpa dikomando segera berkumpul dan menunjuk beberapa orang untuk mendampingi. Sungguh sebuah pengorbanan yang hebat.
********************************************************
Didepan sebuah televisi didalam ruang kerjanya, seorang laki-laki setengah baya menatap siaran ditelevisi dengan tidak berkedip. Siaran televisi tentang tragedi pendakian disebuah gunung, dan diselamatkannya dua orang yang tersambar petir disana. Diambilnya remote control yang ada didepannya dan ditambahkan volume suara seolah tidakpercaya dengan apa yang dilihatnya.
Kringg....kring..
Telepon di depannya berbunyi. Dengan tidak meninggalkan matanya pada layar televisi, di raihnya gagang telepon.
"Halo.."
"Halo, Yah!.Ayah hidupkan tivi sekarang. Ada Aldi yah! Aldi ada ditivi.." kata suara di seberang telepon dengan berapi-api.
"Iya, ayah sudah lihat."
"Jadi, ayah maafin Aldi, kan?"
"Sudahlah, Ayah sudah maafkan dia dari dulu. Oke lah, nanti kita bicara lagi di rumah."
"Oke. Ayah mao dimasakkan apa?"
"Kesenangannya Aldi.!"
Dan telepon diletakkan nya kembali.
"......dalam tragedi yang menewaskan dua orang di everest tersebut, dua orang dokter dari team expedisi yang masih menunggu giliran untuk naik, berhasil menyelamatkan dua orang pendaki. Salah seorang diantaranya -anak seorang pejabat pemerintah di Belanda- masih dalam kondisi memprihatinkan dan dirawat di rumah sakit di Kathmandu. Sementara dua orang dokter yang menyelamatkannya, dr. Aldi Wilaga, dari Indonesia dan dr. Owen Bright dari Inggis, belum memberikan penjelasan resmi mengenai hal itu. Mereka masih berkonsultasi dengan dokter-dokter dari rumah sakit setempat untuk pemulangan ke dua korban yang selamat dan segera memberikan keterangan pers setelah itu. Kami akan terus melaporkan berita ini live satu jam mendatang. Dari Kathmandu, Nepal, reporter anda Alan Williams melaporkan untuk Breaking News hari ini.
Sang lelaki tersenyum, diraihnya jaketputih di sandaran kursinya dan bergegas meninggalkan ruangan kerjanya untuk segera pulang.
***

1 Comments:

At 12:41 PM, Blogger brian said...

is it true story?,,

 

Post a Comment

<< Home