Thursday, August 25, 2005

Catatan Dari Bambangan

Adalah
angin sore di Bambangan
Membelai pelupuk mata dengan mesranya
Tatapan jauh ke puncak
Istana para dewa
yang tak bisa di kenali perasaan

Kita sednag berjalan
pada putaran jaman
antara gerimis kasar dan petir
yang menggelegar

Menorehkan pergulatan batin
pada dasar kawah sangar
kemudian lupakan

Terus lah berjuang
Menghirup udara tipis sebagai penyambung hidup
antara pinus mati dan hutan terbakar
di sini
di samarantu

Kemudian kita semua pasrah
pada belaian makian dan hempasan batin marah
di tepi kuburan tanpa jasad
di sini
di samarantu

Ajari aku melumpuhkan keanguhanku
sebab langkah seribu hanya sepuluh yang kau hitung

ajari aku menghempaskan egoku
sebab ucapan tak hanya bisa melukai
tapi membunuh

Ajari aku menjabat erat tangan mu
kamudian aku akan pergi mengejar
bayang mu yang masih ada
tertinggal di edelweis mati dekat runtuhan batu

:: belajar mengalah demi cinta ::

1 Comments:

At 2:01 AM, Blogger blothonk said...

Hai boim gimana kabarnya.
baek khan
lo naek ke Slamet ya? ma siapa?
kok ga kasih kabar.
aku kan pengen naek, tp pengen coba dr kaliwadas.
sedikit cerita:
naek ke Slamet 3 orang
kita berusaha membersihkan stiker2 di post 3 (ini berkat tulisanmu ttg vandalisme @maillis pendaki). alhamdulliah sampai puncak dengan selamat walaupun tanpa alas kaki. coz sendalku putus waktu turun dr puncak.


ayik SEMARANG
memory @sumbing

 

Post a Comment

<< Home