Saturday, September 02, 2006

Pinus

pada dinding-dindingnya aku bersandar
biarkan angin sore menyapa
menebar semerbak wangi hutan
yang terangkum dalam aroma nafas
ketika bisikan itu lirih membuai

kegelisahan yang tertunda
hingga malam tak bersisa
pekatnya membuyar di terjang gelombang surya

aku bahagia
berlari mengejar seribu mimpi
mengukir pelangi
menyulam benang sutra
menjadi sebuah mahligai
bukan fatamorgana

dibatang-batang pinus itu
semalam mimpi kita melebur
harapan yang terpendam
gelisah yang membuncah
melepas setiap gundah jadi nyata

kelak
aku akan ukirkan prasasti buat kita
dan pada masa nya kita kembali lagi kesini
kau akan tersenyum dan berkata
"aku bangga jadi milikmu"

--pinus--

1 Comments:

At 8:39 PM, Anonymous Anonymous said...

saat kulewati kembali
ada sesak didada
kuhanya menghela nafas
tak terasa sebutir air mata tertumpuk di pelupis mata

ada apa ?
tiba tiba tembok itu terbangun
tak berjendela
tak berpintu
tak berfentilasi

entah
tembok itu mebuat ku
hampa
sepi
kujadi lumpuh
kujadi senyap

bisu
tanpa kata
tanpa bisik
entah

entah
kemana rasa itu
dimanarasa itu

tembok
hanya tembok
tak berani ku bertanya
tak berani ku beranalisa

dari mana tembok ini terbangun
dari mana tembok ini berdiri

tak mampu berucap
karena kutak tahu apa yang terucap
kata apa yang harus kuucap

karena aq tak tahu seperti tembok itu terbangun dan berdiri

 

Post a Comment

<< Home