Tuesday, June 28, 2005

Adinda

Adinda,
harus dimana lagi aku sandarkan punggung ini,
aku sudah mulai lelah
biduk tempat kita berkayuh hampir pecah
sedang kau
memaksa mencapai pulau cinta di tengah samudra

Adinda
aku juga seorang manusia
yang punya keterbatasan
tenaga yang semakin hilang
rapuh sudah menyelinap pada tulang-tulang
tidak seperti masa muda dulu
aku
beranjak tua

Adinda
ya...aku ingat dengan jelas
aku berjanji ambilkan bulan pada purnama itu
bintang-bintang akan kurangkai menjadi kalung
dan kupersembahkan sebagai mas kawin
aku ingat
jelas
Tapi itu bukan janji...sayang
ketika cinta kita membara
aku tidak tahu apa yang bisa membuat kau bahagia
kecuali kata-kata indah
dari sedikit keberanian yang tersisa
dan
aku merayu mu
untuk bisa menawan hatimu

Adinda,
Sekarang aku tak bisa
kita tak pernah lagi sekata
kau mencaci
lampiaskan segala maki
menagih janji rayu purnama dulu

Adinda
Aku hancur
Biduk kita sudah pecah
aku tenggelam
dalam
dalam sekali
ditemani gelap palung samudra
menunggu mati

kau
entah pergi dengan siapa
apa selamat
atau mati juga

***buat Adinda***

1 Comments:

At 4:43 PM, Blogger <<< Samsul Bahri >>> said...

kalimatku untukMu adinda :

-Langit yang tanpa batas, bukan bukti cinta ini.
-Lautan yang tak terjangkau, bukan arahan cinta ini.
-Satu hati yang ingin merengkuh kebersamaan dalam beda, adalah kehendak cinta ini.

 

Post a Comment

<< Home